<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS PJMInews.com - Persaudaraan Jurnalis Islam Indonesia</title> 
				<description>Persaudaraan Jurnalis Islam Indonesia</description>
				<link>https://pjminews.com</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>Siswa SMA Global Mandiri Raih Predikat Outstanding Excellent di Festival Internasional Thailand</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/siswa-sma-global-mandiri-raih-predikat-outstanding-excellent-di-festival-internasional-thailand</link>
						                <description>JAKARTA - Siswa SMA Global Mandiri menorehkan prestasi di kancah internasional melalui keikutsertaan dalam 8th International PEARL UNESCO Global Network of Learning Cities (GNLC) Festival 2026 yang berlangsung pada 27 September hingga 3 Oktober 2026 di Bangkok, Thailand.

Ajang internasional tersebut menjadi ruang bagi para peserta untuk mengenal keberagaman budaya sekaligus menunjukkan kemampuan dan kreativitas di hadapan peserta dari berbagai negara. SMA Global Mandiri mengikutsertakan siswa dari kelas X, XI, dan XII dalam kegiatan tersebut.

Prestasi membanggakan diraih para siswa dengan memperoleh predikat tertinggi Outstanding Excellent dengan rentang skor 95–100 persen. Capaian tersebut menjadi bukti kemampuan siswa dalam berkompetisi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia di forum internasional.

Kepala SMA Global Mandiri, Jupri, S.Sos.I., S.S., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas pencapaian para siswa. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan hasil dari kerja keras, kedisiplinan dalam berlatih, serta dukungan berbagai pihak.

“Kami sangat bangga atas pencapaian luar biasa para siswa. Meraih predikat tertinggi Outstanding Excellent dengan skor 95–100 persen membuktikan bahwa kerja keras, disiplin latihan, dan bakat anak-anak kita mampu bersaing sekaligus diakui di level dunia,” ujar Jupri.

Ia menilai keikutsertaan dalam festival internasional tidak hanya memberikan pengalaman kompetisi bagi siswa, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membawa nama baik Indonesia sekaligus memperkenalkan budaya bangsa kepada masyarakat internasional.

“Terima kasih untuk para siswa, pelatih, guru pembimbing, serta orang tua yang terus memberikan dukungan penuh atas prestasi ini. Semoga pengalaman tersebut semakin membuat para siswa mencintai dan bangga terhadap budaya bangsanya,” katanya.

Salah satu peserta, Khayra Shismy Amaranggana, siswa kelas XI, mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.

“Manfaatnya, aku jadi bisa mengetahui dan mengenal lebih banyak budaya dari negara lain. Selain itu, aku juga jadi lebih berani tampil di depan publik dan mendapatkan pengalaman baru yang sangat berharga,” kata Khayra.

Menurutnya, pengalaman mengikuti festival internasional tersebut juga menjadi bagian penting dalam pengembangan dirinya. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menambah portofolio sekaligus menjadi bekal untuk mengikuti kegiatan dan kompetisi lainnya.

Kepala SMA Global Mandiri berharap prestasi yang diraih para siswa tidak berhenti pada pencapaian penghargaan, tetapi dapat menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk berani mengembangkan potensi dan tampil di tingkat internasional.

“Semoga prestasi ini bukan hanya membuat kita bangga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi anak-anak agar tetap rendah hati, semakin mencintai budaya Indonesia, dan menularkan keberanian kepada teman-teman lainnya untuk berprestasi di panggung dunia,” tutur Jupri.
</description>
					                </item><item>
						                <title>5th IICF 2026 Seni Budaya Indonesia dan Mancanegara Berpadu di Ancol</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/5th-iicf-2026-seni-budaya-indonesia-dan-mancanegara-berpadu-di-ancol</link>
						                <description>Jakarta - Rangkaian 5th Indonesia International Culture Festival (IICF) 2026 berlangsung meriah di Symphony of The Sea, Ancol, Jakarta. Festival yang diselenggarakan Yayasan Warna Budaya Indonesia (Color of Indonesia) tersebut mempertemukan peserta, seniman, komunitas budaya, serta generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara.

Mengusung semangat keberagaman dan persahabatan melalui budaya, IICF 2026 menghadirkan sejumlah kegiatan, mulai dari Group Dance Competition, Solo Dance Competition, International Beach Parade Competition, hingga lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak.

Rangkaian kompetisi diawali dengan Group Dance Competition pada 12 September 2026 yang diikuti 84 peserta dari dalam dan luar negeri.

Adapun pemenangnya yakni Sambara Geulis/Sanggar Gumintang sebagai Juara 1, Sekolah Kebangsaan Puncak Alam 2, Selangor Juara 2, dan Giwang Prada Juara 3. Sementara Harapan 1 diraih Dangiang Padjajaran Purwakarta, Harapan 2 Sibirzkie Uzori dari Rusia, dan Harapan 3 Yayasan Sanggar Kinang Putra.

Pada 13 September 2026, kegiatan dilanjutkan dengan Solo Dance Competition yang diikuti 41 peserta. Juara 1 diraih Zaahira Syaikho Hermawan, Juara 2 Muhammad Fachri Al-Bukhori, dan Juara 3 Argyanti Jelang Ramadhantya.

Selain itu, International Beach Parade Competition diikuti 45 peserta dari dalam dan luar negeri. Sekar Kinanty Dancer Management meraih Juara 1, sedangkan Chandrama Kirana menjadi Juara 2.

Kompetisi parade budaya tersebut juga memberikan sejumlah penghargaan khusus, di antaranya Best Costume kepada Mongolia Entertainment Group, Most Exotic Traditional kepada Sanggar Seni Bungo Serangkai, Favorite Performance kepada Sibirzkie Uzori dari Rusia, serta penghargaan lainnya untuk aspek harmoni gerakan dan musik, kekompakan, ekspresi, kreativitas tari tradisional, hingga kemampuan menghibur.

Tidak hanya memberikan ruang bagi pelaku seni, IICF 2026 juga melibatkan anak-anak melalui Lomba Menggambar dan Mewarnai dalam beberapa kategori usia.

Untuk kategori Mewarnai usia 3–6 tahun, Juara 1 diraih Muhammad Arqom Hasan, Juara 2 Najwa Hizwalul Maulida, dan Juara 3 Nayyara Qirani Fayshariji. Kategori usia 7–11 tahun menempatkan Aneila Putri Alicha sebagai Juara 1, Miguel Angelino Juara 2, dan Sabria Hanum Zalfansyah Juara 3.

Sementara kategori Menggambar usia 10–13 tahun dimenangkan Amelia Christine sebagai Juara 1, Rahma Nabila Zahrani Juara 2, dan Khanza Azzahra Juara 3.

Budaya sebagai Jembatan Persahabatan

Founder Yayasan Warna Budaya Indonesia (Color of Indonesia), Vivi Sandra Putri, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, delegasi internasional, komunitas budaya, seniman, pelajar, juri, mitra, sponsor, relawan, pemerintah, serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan IICF 2026.

Menurut Vivi, IICF bukan sekadar festival, melainkan ruang pertemuan berbagai budaya melalui seni, tari, musik, tradisi, serta kreativitas generasi muda.

“Melalui seni, tari, musik, tradisi, kreativitas anak-anak, dan berbagai ekspresi budaya, kita membangun dialog, mempererat persahabatan, serta menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan yang dapat menyatukan kita,” ujar Vivi.

Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pemenang. Menurutnya, setiap peserta yang berani tampil dan berkontribusi merupakan bagian dari upaya bersama dalam menjaga keberagaman budaya.

Vivi turut menyoroti terciptanya Rekor MURI melalui Semarak Jalo Jali Betawi sebagai salah satu momentum dalam rangkaian kegiatan. Pencapaian tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa budaya lokal memiliki ruang untuk terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada generasi muda maupun masyarakat internasional.

Triabella: IICF Harus Semakin Mendunia

Semangat serupa disampaikan Triabella CN Nasution, Duta Budaya sekaligus ICON Color of Indonesia, yang tahun ini telah memasuki tahun ketiga keterlibatannya dalam Indonesia International Culture Festival.

Triabella mengaku melihat perkembangan IICF dari tahun ke tahun dan merasa bangga dapat kembali terlibat dalam berbagai rangkaian kegiatan.

“Ini tahun ketiga saya mengikuti Indonesia International Culture Festival. Setiap tahun tentunya semakin berkembang, dan saya sebagai ICON Color of Indonesia sangat bangga bisa selalu terlibat dalam setiap rangkaian yang ada selama IICF,” ujar Triabella.

Ia berharap IICF dapat terus berkembang hingga semakin dikenal di tingkat internasional dan menjadi ruang pertemuan bagi seni serta budaya dari berbagai negara.

“Saya berharap IICF semakin mendunia dan bisa mengumpulkan seni dari berbagai negara,” katanya.

Bagi Triabella, perjumpaan melalui seni dan budaya dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan keberagaman sekaligus membangun persahabatan lintas negara.

“Through Culture, we become one!” tegasnya

Melalui penyelenggaraan 5th IICF 2026, Color of Indonesia terus mendorong terciptanya ruang interaksi budaya yang melibatkan masyarakat, generasi muda, pelaku seni, dan komunitas internasional.

Festival tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang apresiasi dan pertukaran budaya yang mempertemukan berbagai tradisi dalam satu panggung di Jakarta.
</description>
					                </item><item>
						                <title>SD Angkasa 12 Halim Perdanakusumah Gelar Peringatan Hari Kesaktian Pancasila </title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/sd-angkasa-12-halim-perdanakusumah-gelar-peringatan-hari-kesaktian-pancasila-</link>
						                <description>Jakarta, pjminews.com-SD Angkasa 12 Halim Perdanakusumah menggelar upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Kamis (1/10/2026). Kegiatan ini berlangsung di halaman sekolah yang berlokasi di Komplek Dirgantara II, Jl. Gatot Kaca II, Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur.

Bertindak sebagai pembina upacara adalah Rita Wiyati, S.Pd. Seluruh rangkaian acara upacara didukung dan dijalankan dengan baik oleh petugas upacara yang berasal dari siswa-siswi kelas 6. 

Kegiatan upacara ini dihadiri oleh seluruh dewan guru, staf karyawan, serta para siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Seluruh peserta upacara terlihat mengikuti jalannya acara dengan sangat tertib dan khidmat, menunjukkan semangat serta rasa hormat terhadap nilai-nilai luhur Pancasila. 

Rita Wiyati selaku pembina mengatakan,"
Peringatan hari kesaktian pancasila  bertujuan untuk terus menanamkan nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, dan pemahaman terhadap ideologi Pancasila sejak dini kepada para generasi muda di lingkungan SD Angkasa 12 Halim Perdanakusumah.***(pjmi/AW)
</description>
					                </item><item>
						                <title>H. Musa Hayat Terpilih Sebagai Ketua Umum SI Jakarta Timur</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/h-musa-hayat-terpilih-sebagai-ketua-umum-si-jakarta-timur</link>
						                <description>JAKARTA, pjminews.com – Syarikat Islam (SI) Jakarta Timur meneguhkan komitmennya sebagai organisasi pergerakan tertua di Indonesia dengan menggelar momentum penting regenerasi kepemimpinan. Melalui gelaran Musyawarah Cabang (Muscab) yang berlangsung pada Selasa malam, 29 September 2026, organisasi ini resmi mengukuhkan nahkoda baru untuk mengawal arah perjuangan di tingkat cabang.

Forum musyawarah yang digelar di kediaman H. Musa, Jalan Pembina I, RT 15/02, Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, berlangsung dalam suasana yang khidmat dan penuh kekeluargaan. Dalam agenda utama penetapan ketua, para pengurus dan anggota menyepakati amanah besar kepada H. Musa Hayat untuk memimpin Syarikat Islam Jakarta Timur.

Penetapan H. Musa Hayat bukan sekadar pergantian estafet jabatan, melainkan sebuah konsolidasi kekuatan untuk memperkokoh barisan umat. Pemilihan lokasi musyawarah yang bertempat di kediaman usaha H. Musa Hayat sendiri menyimbolkan komitmen pribadi dan kesiapan tuan rumah dalam menghidupkan ruh perjuangan Syarikat Islam di wilayah Jakarta Timur.

Sebagai organisasi yang lahir dari rahim sejarah perjuangan bangsa, Syarikat Islam di bawah kepemimpinan baru ini diharapkan mampu menghadirkan wajah Islam yang rahmatan lil &#39;alamin, sekaligus menjadi solusi atas problematika umat di tingkat akar rumput.

"Selamat dan sukses untuk Ketua Terpilih. Semoga langkah-langkah kepengurusan ke depan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, membawa keberkahan, serta mampu mengemban amanah sejarah untuk membesarkan organisasi," ujar salah satu peserta yang hadir dalam acara tersebut.

Dengan terbentuknya kepengurusan baru ini, jajarans Syarikat Islam Jakarta Timur kini bersiap untuk menyusun program kerja strategis, memperluas jaringan ukhuwah, serta meningkatkan khidmat kepada masyarakat di wilayah hukum Jakarta Timur.***(pjmi/AW)
</description>
					                </item><item>
						                <title>PP Aisyiyah Latih Ratusan Kader, Sasar Edukasi Gizi di Ruang Digital </title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/pp-aisyiyah-latih-ratusan-kader-sasar-edukasi-gizi-di-ruang-digital-</link>
						                <description>JAKARTA - PJMINews.com— Sebanyak lebih dari 200 kader ‘Aisyiyah dari seluruh nusantara mengikuti training program dan pendampingan digital guna mengoptimalkan edukasi gizi untuk masyarakat. Kegiatan hasil kolaborasi Majelis Kessehatan PP ‘Aisyiyah dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) ini mencakup pelatihan interaktif dan produksi konten edukasi guna memperkuat dakwah kesehatan digital. 

Ketua Majelis Kesehatan PP ’Aisyiyah, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., menegaskan inisiatif ini digagas untuk merespons perubahan pola komunikasi masyarakat yang kini lebih banyak mengakses informasi kesehatan melalui media sosial. 

"Masyarakat kita saat ini sudah berubah cara pandangnya, cara memperoleh informasinya, dan cara berkomunikasinya. Kehadiran offline tetap penting, tetapi jangkauannya sangat terbatas. Media sosial kini menjadi ruang yang sangat strategis untuk menyampaikan pesan kesehatan secara tepat dan lebih luas," ujar Warsiti saat memberikan arahan dalam pembukaan pelatihan, Sabtu (26/9/2026). 

Warsiti menjelaskan, derasnya arus informasi di media sosial kerap memicu kebingungan publik akibat maraknya hoaks, mitos, maupun klaim kesehatan yang tidak memiliki dasar ilmiah. Oleh karena itu, para kader kesehatan ’Aisyiyah dilatih agar mampu mengemas materi medis yang rumit menjadi pesan yang sederhana, mudah dipahami, tetapi tetap kredibel dan berbasis bukti ilmiah. 

Satu di antara fokus edukasi yang disoroti adalah maraknya salah kaprah di masyarakat terkait konsumsi susu dan nutrisi anak, seperti persepsi mengenai kental manis. 

Perwakilan Majelis Kesehatan PP &#39;Aisyiyah, Dr. dr. Merita Arini, MMR., mengungkapkan bahwa iklan masa lalu yang bombastis dan keliru telah membentuk persepsi salah di tengah masyarakat, di mana kental manis dianggap sebagai susu pertumbuhan atau pengganti nutrisi untuk anak. 

"Iklan-iklan lama membentuk pemahaman yang keliru, seolah kental manis adalah susu pelengkap gizi untuk anak. Padahal, produk ini memiliki kadar gula yang sangat tinggi dan kandungan susu yang amat sedikit," terang dr. Merita. 

Ia mengutip survey YAICI dan &#39;Aisyiyah yang mencatat lebih dari 67 persen responden masyarakat sempat mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu harian. 

"Tugas kader digital &#39;Aisyiyah adalah menjadi penyaring dan pelurus informasi Kita harus masif mengedukasi masyarakat bahwa konsumsi gula berlebih dari kental manis meningkatkan risiko obesitas dan penyakit tidak menular sejak dini. Pesan kesehatan ini harus dibungkus dengan bahasa yang sederhana dan relevan dengan ibu serta keluarga," tambah dr. Merita. 

Dalam kesempatan tersebut, Warsiti juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan yang inklusif dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas. Ia mendorong para kader untuk menyisipkan penerjemah Bahasa Isyarat atau teks transkrip pada setiap konten video edukasi yang diproduksi. 

"Media edukasi digital yang kita miliki harus ramah pada kelompok disabilitas. Misalnya untuk teman-teman tunarungu, konten video bisa diselipkan JBI di pojok kanan bawah atau diberikan teks yang jelas. Kita harus memastikan informasi kesehatan ini dapat menjangkau kelompok rentan tanpa terkecuali," tegas Warsiti. 

PP ’Aisyiyah mendorong seluruh pimpinan wilayah dan daerah untuk memperlihatkan dampak nyata serta inovasi dari gerakan kesehatan masyarakat yang telah dijalankan. - (rd/pjminews)
</description>
					                </item><item>
						                <title>Halal Corner Indonesia Gelar Webinar Nasional </title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/halal-corner-indonesia-gelar-webinar-nasional-</link>
						                <description>JAKARTA - PJMINews.com— Halal Corner Indonesia akan menyelenggarakan webinar nasional bertajuk “Sanksi & Pencantuman Logo Non-Halal: Pahami Aturannya, Hindari Risikonya” pada Sabtu, 3 Oktober 2026, pukul 08.30–12.30 WIB secara daring melalui Zoom. 

Webinar ini diselenggarakan sebagai ruang edukasi bagi pelaku usaha, UMKM, praktisi halal, konsultan, akademisi, komunitas, serta masyarakat umum untuk memahami berbagai aspekterkait regulasi halal, pencantuman informasi non-halal, pengawasan produk, perlindungankonsumen, serta sanksi yang perlu diperhatikan oleh pelaku usaha. 

Memasuki periode Wajib Halal Oktober 2026, pemahaman terhadap ketentuan jaminan produkhalal menjadi semakin relevan bagi dunia usaha. Tidak hanya mengenai kewajiban sertifikasi halal, pelaku usaha juga perlu memahami bagaimana informasi mengenai produk non-halal disampaikan kepada konsumen serta aspek kepatuhan yang menyertainya. 

Melalui perspektif dari Regulator, Praktisi Hukum, Konsumen, dan Industri untuk memberikanpembahasan yang lebih komprehensif, webinar ini menghadirkan narasumber dari beberapainstitusi dan unsur industri. 

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) akan membahas Regulasi Wajib Halal Oktober 2026, Ketentuan Logo Non-Halal & Sanksi Administrasi. Dari aspek hukum, Praktisi Hukum akan membahas Pengawasan Pasar & Aspek PenegakanHukum Produk Non-Halal. 

Sementara itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) akan mengangkat isu HakKonsumen atas Kepastian Informasi Produk Halal vs Non-Halal. Perspektif dunia usaha akan disampaikan oleh TDA Entrepreneur Community, dengan topikKesiapan & Tantangan Industri Makanan-Minuman Menghadapi Wajib Halal Oktober 2026. 

Kehadiran berbagai perspektif tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebihutuh mengenai isu halal, mulai dari aspek regulasi hingga implementasinya di lapangan. 

Penting bagi Pelaku Usaha untuk Memahami Ketentuan

Founder Halal Corner Indonesia, Aisha Maharani, mengatakan bahwa edukasi mengenai regulasi halal perlu terus diperkuat seiring dengan berkembangnya ekosistem halal Indonesia. “Pelaku usaha tidak cukup hanya mengetahui bahwa ada kewajiban halal. Mereka juga perlumemahami bagaimana ketentuan tersebut diterapkan, bagaimana informasi produkdisampaikan kepada konsumen, serta apa konsekuensi dari ketidakpatuhan.” 

Menurutnya, pemahaman regulasi merupakan bagian penting dari kesiapan pelaku usahamenghadapi perkembangan ekosistem halal Indonesia.

“Melalui webinar ini, kami ingin mempertemukan perspektif regulator, praktisi hukum, konsumen, dan industri dalam satu ruang diskusi yang edukatif. Harapannya, peserta dapat memperolehpemahaman yang lebih jelas dan dapat mempersiapkan usahanya dengan lebih baik,” ujar Aisha. 

Terbuka untuk Pelaku Usaha dan Masyarakat Umum

Webinar ini terbuka bagi: - Pelaku usaha dan UMKM - Praktisi dan konsultan halal - Akademisi dan mahasiswa - Komunitas - Industri makanan dan minuman - Masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap industri halal. - (rat/pjminews)


 
</description>
					                </item><item>
						                <title>Al Washliyah Siap Berikan Beasiswa dan Tampung Anak Yatim Palestina</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/al-washliyah-siap-berikan-beasiswa-dan-tampung-anak-yatim-palestina</link>
						                <description>Jakarta, pjminews.com- Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah menerima kunjungan silaturahmi Ketua Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban Palestina (YPSPP), Dr. Ahed Abu Al Atha, bersama Ketua Komisi Fatwa Universitas Gaza, Prof. Maher Hamed Alholi, di Kantor PB Al Washliyah, Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 41, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Ketua Umum PB Al Jam’iyatul Washliyah, Dr. H. Masyhuril Khamis, SH., MM., menegaskan, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi biasa, melainkan perwujudan ikatan persaudaraan Islam yang mendalam.

“Kunjungan ini bukanlah sekadar kunjungan biasa, melainkan perwujudan dari ikatan persaudaraan Islam yang mendalam antara rakyat Indonesia dan Bangsa Palestina yang kini sedang terjajah,”  ujar KH. Masyhuril, dalam sambutannya.

KH. Masyhuril mengatakan, Al Washliyah akan terus mengajak umat Islam memberikan dukungan kepada rakyat Palestina bukan saja melalui doa, tetapi juga harta dan berbagai bentuk lain.

“Al Washliyah bersama rakyat Palestina dalam satu barisan, satu hati, dan satu raga,” tegas KH. Masyhuril.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Al Washliyah menawarkan program beasiswa bagi anak-anak Palestina yang ingin menempuh pendidikan di Indonesia.

“Al Washliyah memiliki universitas dan panti asuhan yang siap menerima anak-anak kita dari Palestina untuk belajar di sekolah dan universitas kami. Mereka berhak mendapatkan beasiswa pendidikan dari kami,” kata Masyhuril.

KH. Masyhuril berharap dukungan tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membantu rakyat Palestina hingga tercapainya kemerdekaan Palestina  kebebasan Masjid Al-Aqsa.

Kurikulum

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PB Al Jam’iyatul Washliyah, Prof. Dr. H. Saifuddin Herlambang, S.Ag., MA., menegaskan bahwa kepedulian terhadap Palestina juga akan diperkuat melalui kurikulum

Al Washliyah akan memasukkan materi-materi kepalestinaan ke dalam kurikulum pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi yang berada di lingkungan organisasi. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman dan kepedulian generasi muda terhadap sejarah, kondisi, serta perjuangan rakyat Palestina.

Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab. Acara diawali dengan makan bersama dengan hidangan khas Al Washliyah, antara lain gulai daun singkong tumbuk, teri dan jengkol. Para tamu dari Palestina tampak menikmati hidangan tersebut.

Suasana persaudaraan semakin terasa melalui prosesi tukar-menukar selendang. Para tamu memasangkan selendang khas perjuangan Palestina kepada tuan rumah, sementara jajaran Al Washliyah memasangkan selendang khas Al Washliyah kepada para tamu. Para tamu juga dikenakan peci beludru hitam dengan logo Al Washliyah.

Bahkan, Prof. Maher Hamed Alholi memberi gelar Abu Al-Quds kepada KH Masyhuril Khamis atas kepedulian dan upaya nyatanya membebaskan Jerussalem dari cengkraman penjajah.

Sejumlah jajaran PB Al Washliyah hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Bendahara Umum serta pimpinan organisasi bagian, yakni Muslimat Al Washliyah dan Angkatan Putri, Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA), Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Al Washliyah (IPA dan HIMMAH), serta Ikatan Guru dan Dosen Al Washliyah (IGDA).

Pertemuan tersebut menjadi penegasan komitmen Al Washliyah untuk terus memperkuat ukhuwah dengan rakyat Palestina, sekaligus mewujudkan solidaritas melalui doa, bantuan dan akses pendidikan.***(pjmi/il/sp)
</description>
					                </item><item>
						                <title>Esports Indonesia Naik Level, Bukan Lagi Sekadar Main Game</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/esports-indonesia-naik-level-bukan-lagi-sekadar-main-game</link>
						                <description>JAKARTA -  Esports Indonesia memasuki babak baru. Perkembangan olahraga elektronik kini tidak lagi semata-mata dipandang sebagai aktivitas bermain game, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari prestasi olahraga, ekonomi digital, diplomasi, hingga strategi negara.

Deputi Bakom RI, Ulta Levenia, mengatakan perubahan tersebut perlu dipahami masyarakat seiring semakin besarnya perhatian negara-negara di dunia terhadap esports.

Menurut Ulta, esports telah berkembang menjadi sebuah ekosistem strategis yang melibatkan atlet, industri, teknologi, ekonomi digital, hingga kepentingan nasional di panggung internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah keberangkatan Tim Nasional Esports Indonesia menuju Jepang untuk berlaga pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Indonesia turun pada delapan nomor pertandingan dengan target satu medali emas, tiga perak, dan empat perunggu.

“Sebelum bilang ‘itu cuma main game’, izinkan saya cerita sedikit sejarah. Kalau papan catur saja bisa jadi medan geopolitik, sekarang pikirkan esports. Ditonton ratusan juta orang, industri bernilai triliunan. Negara-negara besar membangun tim nasionalnya seperti membangun armada,” ujar Ulta kepada media di Jakarta, Minggu (27/9/2026).

Ulta kemudian mengangkat pertandingan catur antara Bobby Fischer dan Boris Spassky di Reykjavik, Islandia, pada 1972. Pertandingan tersebut berlangsung di tengah ketegangan Perang Dingin dan kemudian dikenal luas sebagai salah satu simbol persaingan Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Bagi Ulta, sejarah tersebut menunjukkan bahwa arena kompetisi olahraga dapat memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar pertandingan. Kompetisi dapat menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan, pengaruh, teknologi, serta identitas suatu negara.

Kepemimpinan PB ESI

Perkembangan esports Indonesia juga memasuki fase baru setelah Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Herindra dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) periode 2026–2030 pada 15 September 2026.

Latar belakang Herindra yang bukan berasal dari atlet esports profesional sempat menjadi perhatian publik. Namun, Ulta menilai posisi pimpinan organisasi esports pada tingkat nasional lebih berkaitan dengan aspek tata kelola dan strategi organisasi daripada kemampuan teknis bermain game.

“Karena semakin tinggi puncak hierarki pimpinan esports itu menjadi governance position, bukan posisi teknis,” ujarnya.

Menurut Ulta, seorang pemimpin organisasi esports perlu memahami tata kelola, pembinaan atlet, pengembangan ekosistem, serta bagaimana membawa kepentingan Indonesia dalam kompetisi internasional.

“Yang paling utama adalah mengerti bagaimana atlet mendapatkan yang terbaik. Baik dari latihan, sampai prestasinya,” kata Ulta.

Dari Gaming ke Arena Strategis

Ulta juga menyoroti perkembangan organisasi esports di berbagai negara. Menurutnya, posisi strategis dalam organisasi esports tidak selalu ditempati oleh mantan pemain profesional.

Karena itu, ia mengajak publik melihat kepemimpinan esports dari sisi tata kelola, kebijakan, pembinaan atlet, dan dampaknya terhadap perkembangan ekosistem secara keseluruhan.

“Masuknya Jenderal Herindra ke dalam puncak pimpinan esports Indonesia menunjukkan juga bahwa esports ini bukan lagi hanya sekadar gaming, tapi juga sebagai instrumen strategi negara, soft power, dan diplomasi hingga ekonomi digital,” imbuhnya.

Perkembangan tersebut membuat esports memiliki ruang yang semakin luas dalam ekosistem olahraga dan ekonomi digital. Di sisi lain, atlet tetap menjadi bagian utama yang menentukan prestasi Indonesia dalam setiap kompetisi internasional.

Atlet Esports Bawa Nama Indonesia

Ulta menegaskan bahwa keberangkatan Timnas Esports Indonesia ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026 bukan sekadar kompetisi antarpemain atau antarklub.

Para atlet yang bertanding membawa nama Indonesia di arena olahraga internasional.

“Mereka bukan sekadar gamers. Mereka atlet. Mereka duta, mereka pasukan terdepan Indonesia di arena persaingan zaman ini,” katanya.

Karena itu, Ulta mengajak masyarakat memberikan dukungan kepada para atlet esports Indonesia sebagaimana dukungan diberikan kepada atlet dari cabang olahraga lainnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima berbagai informasi mengenai perkembangan esports, terutama dengan semakin besarnya perhatian publik terhadap olahraga digital tersebut.

Menurutnya, perkembangan esports perlu dilihat sebagai bagian dari perubahan lanskap kompetisi di era digital, yang mencakup aspek olahraga, teknologi, ekonomi, dan hubungan antarnegara.

“Untuk seluruh delegasi esports kita, selamat bertanding, main dengan tenang, menang dengan terang. Stop termakan framing. Cari substansinya. Kasih ulti dengan bukti,” pungkas Ulta.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah Hadiri Media Gathering Hari Santri 2026 </title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/majelis-pendidikan-pb-alwashliyah-hadiri-media-gathering-hari-santri-2026-</link>
						                <description>JAKARTA, pjminews.com- Majelis Pendidikan Pengurus Besar (PB) Al-Washliyah menghadiri Media Gathering Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama Republik Indonesia di Cosmo Amarossa Hotel, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

https://parahyangan-post.com/berita/detail/peringatan-hari-santri-2026-basnang-said-kemenag-dorong-pesantren-jadi-kekuatan-ekonomi

Dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah, Assoc. Prof. Dr. Akmal Rizki Gunawan Hsb, M.A., mewakili PB Al-Washliyah  menghadiri undangan Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama.

Media gathering tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan dan penguatan pesan Hari Santri 2026, sekaligus menjadi ruang dialog antara Kementerian Agama, insan media, serta berbagai unsur yang memiliki perhatian terhadap perkembangan pesantren dan pendidikan keagamaan di Indonesia.

Menteri Agama dalam paparannya menekankan pentingnya penghargaan bangsa Indonesia terhadap jasa para ulama dan santri dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia menyinggung Resolusi Jihad yang digelorakan para ulama sebagai salah satu bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Menurutnya, bangsa Indonesia perlu terus mengingat kontribusi ulama dan santri dalam perjalanan bangsa. Ia bahkan menyampaikan bahwa ketika seorang santri menyuarakan sesuatu, suara tersebut merupakan representasi dari suara langit.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama juga mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto dengan istilah “Jas Hijau”, yang merupakan akronim dari “Jangan Sekali-kali Lupakan Jasa Ulama.” Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat agar kontribusi ulama terhadap bangsa dan negara senantiasa mendapatkan penghargaan.

Menteri Agama juga menyoroti penguatan kelembagaan pesantren pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama, yang sebelumnya masih berbentuk Direktorat Pesantren.

Dirjen Pesantren Paparkan Program 100 Hari

Selain Menteri Agama, Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag., turut menyampaikan paparan mengenai arah dan program kerja Direktorat Jenderal Pesantren, khususnya dalam 100 hari pertama.

Basnang Said menjelaskan bahwa penguatan Direktorat Jenderal Pesantren tidak hanya berkaitan dengan perubahan struktur kelembagaan, tetapi juga menyangkut penegasan distingsi antara Direktorat Jenderal Pesantren dan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Distingsi tersebut, menurutnya, perlu dibangun mulai dari aspek epistemologi, ontologi, hingga aksiologi, sehingga keberadaan Direktorat Jenderal Pesantren memiliki basis keilmuan, kelembagaan, dan orientasi kebijakan yang jelas.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah penguatan sistem pendataan pesantren secara nasional. Pendataan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengetahui jumlah pesantren, tetapi juga untuk memetakan karakteristik dan skala masing-masing pesantren.

Dalam pemaparannya, Basnang Said menyampaikan rencana pengelompokan pesantren berdasarkan jumlah santri. Di antaranya, Tipe A untuk pesantren dengan jumlah santri lebih dari 5.000 orang, Tipe B dengan jumlah santri 1.000–5.000 orang, Tipe C dengan jumlah santri 100–500 orang, serta Tipe D untuk pesantren dengan jumlah santri 1–15 orang.

Pendataan dan kategorisasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan serta program pembinaan pesantren yang lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing lembaga.

Dalam paparannya, Dirjen Pesantren juga menekankan pentingnya keberadaan afiliasi organisasi keagamaan dalam ekosistem pesantren. Ia menyebut sejumlah organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Al-Washliyah sebagai contoh organisasi yang menjadi bagian dari kehidupan keumatan di Indonesia.

Menurutnya, keterhubungan pesantren dengan organisasi keagamaan dapat menjadi salah satu bagian dari penguatan ekosistem pendidikan pesantren sekaligus memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan pesantren tetap berada dalam kerangka kehidupan berbangsa dan bernegara serta tidak bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Al-Washliyah Dorong Penguatan Pesantren

Kehadiran Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen organisasi untuk terus mengikuti perkembangan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan Islam dan pesantren.

Sebagai organisasi Islam yang memiliki sejarah panjang dalam bidang pendidikan, Al-Washliyah memiliki perhatian terhadap penguatan lembaga pendidikan, termasuk pesantren dan lembaga pendidikan Islam lainnya.

Melalui forum tersebut, Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah juga memperoleh ruang untuk mengikuti secara langsung arah kebijakan baru pemerintah terkait kelembagaan pesantren, pendataan nasional, serta penguatan posisi pesantren dalam pembangunan pendidikan dan kehidupan kebangsaan.

Kegiatan Media Gathering Hari Santri 2026 ditutup dengan dialog dan komunikasi antara jajaran Kementerian Agama dengan peserta, termasuk unsur organisasi keagamaan dan media, sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi dalam mengembangkan pesantren dan pendidikan keagamaan di Indonesia.***(pjmi/IL/sp)
</description>
					                </item><item>
						                <title>Amar Makruf Nahi Munkar dan Wajah Kemanusiaan Kita</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/amar-makruf-nahi-munkar-dan-wajah-kemanusiaan-kita</link>
						                <description>Oleh: Suko Wahyudi.
Kolumnis dan Pegiat Literasi 

Amar makruf nahi munkar barangkali merupakan salah satu istilah keagamaan yang paling sering kita dengar. Ia hadir dalam khutbah, pengajian, buku-buku keislaman, bahkan percakapan sehari-hari. Tetapi semakin sering sebuah istilah diucapkan, terkadang semakin jarang kita bertanya apakah maknanya masih utuh. Amar makruf sering berhenti pada ajakan berbuat baik, sementara nahi munkar sibuk mencari perbuatan buruk yang dilakukan orang lain. Kita kemudian merasa telah menjalankan agama ketika berhasil mengingatkan orang lain, padahal belum tentu kita bertanya apakah kehidupan di sekitar kita telah menjadi lebih manusiawi. 

Kuntowijoyo pernah memberikan pemaknaan yang patut direnungkan. Amar makruf bukan hanya mengajak manusia melakukan kebaikan dalam pengertian ritual, melainkan merupakan usaha memanusiakan manusia. Sebaliknya, nahi munkar adalah usaha membebaskan manusia dari berbagai keburukan yang membelenggunya. Pengertian semacam ini membuat agama bergerak dari ruang ceramah menuju ruang kehidupan. Manusia yang lapar, bodoh, tertindas, diperlakukan tidak adil, atau kehilangan kesempatan untuk hidup layak tidak cukup hanya diberi nasihat agar bersabar. Ia membutuhkan tangan yang membuka jalan keluar. 

Di sinilah kita menemukan persoalan Indonesia hari ini. Kita hidup dalam masyarakat yang secara statistik religius, tetapi pada saat yang sama masih berhadapan dengan korupsi, kemiskinan, ketimpangan, kekerasan, diskriminasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Kita memiliki banyak rumah ibadah, banyak majelis ilmu, banyak ceramah, dan banyak orang yang berbicara tentang moral. Tetapi kehidupan manusia tidak otomatis menjadi lebih baik hanya karena kata-kata tentang kebaikan semakin banyak. Ada jarak yang kadang terlalu lebar antara kesalehan yang dibicarakan dan kenyataan sosial yang dijalani. 

Kemiskinan, misalnya, sering kita jawab dengan sedekah. Sedekah tentu merupakan kebaikan. Tetapi kemiskinan tidak selalu lahir karena seseorang malas bekerja atau kurang bersyukur. Ada persoalan pendidikan, kesempatan kerja, kepemilikan modal, kebijakan ekonomi, dan struktur sosial yang membuat seseorang terus berada di bawah. Jika amar makruf dimaknai sebagai memanusiakan manusia, maka kepedulian terhadap orang miskin tidak boleh berhenti pada memberi bantuan ketika mereka lapar. Kita juga perlu bertanya mengapa mereka terus lapar dan mengapa sebagian orang lain dapat hidup berlebihan. 

Begitu pula korupsi. Kita sering menyebutnya sebagai kejahatan, tetapi belum tentu menghayatinya sebagai kemungkaran yang mempunyai korban manusia. Uang publik yang hilang tidak berhenti sebagai angka dalam laporan keuangan. Di baliknya terdapat hak masyarakat yang ikut hilang. Ada ruang kelas yang tidak dibangun, fasilitas kesehatan yang tidak tersedia, pelayanan publik yang buruk, dan kesempatan anak-anak miskin yang semakin sempit. Jika demikian, melawan korupsi bukan sekadar urusan aparat penegak hukum. Ia juga merupakan bagian dari nahi munkar karena korupsi membelenggu kehidupan banyak manusia. 

Kita juga perlu melihat perubahan tempat berlangsungnya kehidupan manusia. Dahulu orang bertemu di pasar, sekolah, kantor, masjid, atau ruang keluarga. Sekarang sebagian besar perjumpaan itu berlangsung di layar. Orang yang belum pernah bertemu dapat saling memuji dan saling membenci. Sebuah berita dapat berpindah dari satu tangan ke tangan lain sebelum kebenarannya diperiksa. Satu potongan video dapat membuat seseorang dihakimi ribuan orang. Dalam dunia seperti ini, keburukan tidak selalu berupa tindakan yang dilakukan di depan mata. Ia bisa berupa satu klik, satu unggahan, satu komentar, atau satu informasi palsu yang kita sebarkan. 

Maka, menjaga jari menjadi sama pentingnya dengan menjaga lisan. Orang yang memilih tidak menyebarkan kabar yang belum jelas sebenarnya sedang melakukan sebuah tindakan moral. Orang yang tidak ikut mempermalukan orang lain di media sosial sedang menjaga martabat manusia. Orang yang menolak ikut membenci hanya karena algoritma mempertemukannya dengan kebencian sedang melakukan bentuk nahi munkar yang mungkin tidak pernah disebut dalam buku-buku lama, tetapi sangat diperlukan dalam kehidupan sekarang. 

Namun ada sesuatu yang lebih sulit. Kita sering memiliki keberanian besar untuk melakukan nahi munkar kepada orang lain, tetapi kehilangan keberanian ketika kemungkaran datang dari kelompok sendiri. Kesalahan orang yang berbeda dengan kita tampak besar. Kesalahan orang yang kita cintai terasa kecil. Ketika lawan melakukan keburukan, kita menyebutnya kemungkaran. Ketika kawan melakukan hal yang sama, kita menemukan alasan untuk memakluminya. Di sinilah agama berhadapan dengan kepentingan manusia. Bukan perkara mudah menjaga kebenaran ketika kebenaran itu menuntut kita mengoreksi orang yang dekat dengan kita. 

Padahal kebenaran tidak semestinya mempunyai kartu anggota. Korupsi tetap korupsi siapa pun pelakunya. Kebohongan tetap kebohongan meskipun keluar dari mulut orang yang kita kagumi. Ketidakadilan tetap ketidakadilan meskipun dilakukan oleh mereka yang selama ini kita anggap sebagai kelompok sendiri. Amar makruf nahi munkar justru kehilangan daya moralnya ketika ia hanya digunakan untuk menghakimi mereka yang berbeda dan tidak pernah diarahkan kepada diri sendiri. 

Karena itu, mungkin yang perlu kita perluas bukan hanya pengertian amar makruf nahi munkar, tetapi juga medan keberanian moral kita. Masjid tidak harus berhenti sebagai tempat orang datang untuk beribadah. Ia dapat menjadi tempat masyarakat belajar, memperoleh pendampingan, mengembangkan ekonomi, membaca persoalan lingkungan, dan membangun solidaritas. Pengajian tidak harus kehilangan pembicaraan tentang akhirat ketika berbicara tentang kemiskinan, pendidikan, korupsi, demokrasi, atau kehidupan digital. Justru di sanalah ajaran agama diuji: apakah ia mampu menjawab penderitaan manusia yang nyata. 

Dakwah pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang mendengarkan kita berbicara. Dakwah juga tentang seberapa banyak manusia yang kehidupannya berubah karena kebaikan yang kita perjuangkan. Orang miskin yang memperoleh kesempatan hidup lebih baik, anak yang kembali sekolah, masyarakat yang berani melawan korupsi, warga yang terbebas dari kebencian, dan lingkungan yang terselamatkan dari kerusakan merupakan bagian dari wajah amar makruf nahi munkar yang lebih luas. 

Mungkin karena itu kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya hendak dicapai oleh amar makruf nahi munkar? Jika jawabannya hanya agar orang lain mengikuti apa yang kita anggap benar, maka agama mudah berubah menjadi alat penyeragaman. Tetapi jika tujuannya adalah memanusiakan manusia dan membebaskannya dari berbagai belenggu, maka agama mempunyai pekerjaan yang jauh lebih besar. 

Indonesia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang kebaikan. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana kebaikan itu hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana agama hadir ketika orang miskin membutuhkan kesempatan, ketika masyarakat membutuhkan keadilan, ketika kekuasaan membutuhkan kritik, dan ketika ruang digital membutuhkan kejujuran. 

Amar makruf nahi munkar dengan demikian tidak selesai di mimbar. Ia harus turun ke kehidupan. Sebab manusia tidak hanya membutuhkan nasihat tentang bagaimana menjadi baik. Manusia juga membutuhkan lingkungan sosial yang memungkinkan dirinya hidup sebagai manusia yang bermartabat. 

Barangkali amar makruf yang paling penting hari ini adalah membuat manusia merasa dihargai sebagai manusia. Dan nahi munkar yang paling mendesak adalah melawan segala sesuatu yang membuat manusia kehilangan martabatnya. (*)
</description>
					                </item></channel>
  	</rss>